Home » , , , » KESUDAHAN ORANG YANG SOMBONG

KESUDAHAN ORANG YANG SOMBONG

Written By buletin al-iman on Kamis, 14 Februari 2013 | 07.44




Di antara akhlak mulia yang dianugerahkan Allah ta’ala kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa adalah tawadu’. Tawadu’ merupakan sifat terpuji yang diperintahkan
di dalam Islam yang senantiasa dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dengan
tawadu’, satu sama lain akan saling menghormati dan tidak menyakiti. Dengannya pula,
sesama manusia tidak akan saling menonjolkan bahwa dirinya-lah paling hebat, kuat, kaya,
atau paling bertakwa.
Sifat mulia inilah yang tertanam pada diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan senantiasa beliau tanamkan pada diri para sahabatnya. Sehingga kita dapati beberapa
hadits beliau berisi perintah untuk tawadu’ dan larangan bersikap takabbur atau sombong.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadu’, sehingga satu
sama lain tidak saling berbangga diri, satu sama lain tidak saling menganiaya. (HR. Muslim)
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

Dan tidaklah seseorang tawadu’ karena Allah melainkan Dia pasti akan mengangkat
derajatnya. (HR. Muslim)

HAKEKAT TAWADU’

Pada hakekatnya tawadu’ adalah, “menerima kebenaran, tunduk dan patuh
kepadanya, rendah diri dan ramah, dan tidak melihat diri sendiri lebih tinggi dari pada orang
lain.” (al-Tawadu’ fi al-Kitab wa al-Sunnah, hal. 8)
Orang yang tawadu’ ialah orang yang mau menerima kebenaran yang datang dari
al-Qur’an dan as-Sunnah. Tidak menolaknya apalagi mengolok-oloknya. Dia mau menerima
nasihat yang berisi kalamullah dan kalam Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mau
mengamalkan pelajaran yang ada di dalamnya.
Orang yang tawadu’ adalah orang yang menghargai dan menghormati orang lain,
tidak menghina atau melecehkan mereka, tidak pula berbuat kezhaliman kepada mereka.
Dia tidak merasa bahwa dirinya lebih baik dari para mereka, lebih rajin dalam beribadah
atau lebih bertakwa dari pada sesama manusia.


LARANGAN BERSIKAP SOMBONG

Kebalikan dari tawadu’ adalah takabbur yang berarti sombong. Sombong memiliki
arti tidak mau menerima kebenaran yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.
Menolaknya dan tidak mau mengamalkannya. Meremehkan dan merendahkan orang lain.
Merasa diri lebih baik atau paling baik di antara sesama manusia.
Sombong adalah sifat tercela yang dapat menghinakan orang yang tersifati
dengannya di dunia dan akhirat. Di dunia dia tidak akan disukai manusia, dijauhi dan
dikucilkan. Sekiranya ada yang menyukainya, maka di balik itu ada sesuatu yang diinginkan
darinya. Atau mungkin juga, orang tersebut tidak berbeda dengannya, yakni mereka berdua
sama-sama sombongnya.
Adapun di akhirat, cukuplah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut
menjadi ancaman bagi orang-orang yang sombong. Beliau bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah dari
kesombongan. (HR. Muslim)
Hadits di atas menjadi peringatan dan cemeti bagi setiap muslim. Hadits ini akan
sangat bermanfaat bagi siapa saja yang mengingikan kebaikan pada dirinya.


KESUDAHAN ORANG-ORANG YANG SOMBONG

Allah ‘azza wa jalla tidak lalai dan tidak tidur. Dia pasti akan membalas orang-orang
yang sombong, yang tidak mau menerima nasihat dari al-Qur’an dan as-Sunnah atau bahkan
melecehkannya, cepat atau lambat. Maka itu, apabila seorang dari kita pernah menolak
kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah, hendaklah ia cepat bertaubat kepada Allah dengan
taubat nasuha, agar terhindar dari hukuman Allah ta’ala.
Di bawah ini beberapa contoh hukuman Allah yang disegerakan bagi orang-orang
yang sombong terhadap kebenaran. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua.

(1). Tidak bisa mengangkat tangan ke mulut

Dari Salamah bin al-Akwa’ radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ada seseorang yang
makan di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan tangan kiri, lalu beliau
menasihatinya: “Makanlah dengan tangan kananmu.”
Orang itu menjawab: “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda: “Sungguh engkau tidak
akan bisa, tidak ada yang mencegahmu (untuk makan dengan tangan kanan) melainkan
kesombongan.” Salamah berkata: “Ternyata dia tidak bisa mengangkat tangannya ke
mulut.” (HR. Muslim no. 2021)

(2). Ular keluar dari teko

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam melarang minum secara langsung dari mulut geriba (teko). (HR. al-Bukhari no. 5627)
Ayyub berkata: “Aku mendapat kabar bahwa ada seseorang yang minum langsung
dari mulut teko, tiba-tiba seekor ular keluar darinya.” (HR. Ahmad 12/66 no. 7153)


(3). Jatuh tersungkur dari hewan tunggangan

Dari Abdurrahman bin Harmalah ia berkata: “Ada seseorang datang menemui Sa’id
bin al-Musayyib untuk pamitan pergi haji atau umroh. Ia berkata kepada orang itu
(sementara adzan sudah dikumandangkan, pen): “Janganlah engkau pergi dulu sebelum
mengerjakan sholat, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada
yang keluar dari masjid setelah adzan dikumandangkan melainkan seorang munafik, kecuali
seseorang yang keluar karena ada kebutuhan dan dia ingin kembali ke masjid.”
Ia berkata: “Para sahabatku sudah sampai daerah Harroh.” Lalu ia pun pergi.
Sementara Sa’id terus mengingat-ingat orang itu hingga akhirnya dia mendapat kabar
bahwa orang itu jatuh tersungkur dari hewan tunggangannya hingga kakinya patah. (HR.
Abdurrazzaq no. 1945 dan ad-Darimi no. 446)

(4). Tangan masuk ke dalam dubur

Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il at-Taimi berkata ketika mensyarah sebuah
hadits di dalam Shahih Muslim: “Aku pernah membaca suatu hikayat bahwa sebagian ahli
bid’ah ketika mendengar hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berikut: “Apabila seorang
dari kalian bangun tidur, hendaklah ia mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum
mencelupkannya ke wadah air, sebab ia tidak tahu di mana tangannya bermalam.” (HR. al-
Bukhari no. 162 dan Muslim no. 278) maka seorang dari mereka berkata dengan ejekan:
‘Saya tahu di mana tanganku bermalam di kasur!!.’ Ternyata pada keesokan harinya orang
itu mendapati tangannya masuk ke dalam duburnya hingga sampai lengan.”
At-Taimi berkata: “Hendaklah seseorang takut dari merendahkan Sunnah dan hal-
hal yang berkaitan dengan wahyu, perhatikanlah bagaimana orang tersebut bisa
mendapatkan balasanburuk seperti ini.“ (Bustanul ‘Arifin, karya an-Nawawi hal. 94)

(5). Gara-gara mencela Abu Hurairah

Al-Qadhi Abu at-Thayyib berkata: “Kami dahulu pernah duduk bermajlis di masjid
Jami’ al-Manshur. Lalu datang seorang pemuda Khurasan, ia bertanya tentang jual beli
hewan yang air susunya sengaja tidak diperas beberapa hari agar terlihat gemuk dan berisi,
ia meminta dalil, lalu disebutkan sebuah hadits dari Abu Hurairah yang menjelaskan tentang
hal itu. Ia berkata -dan dia seorang yang bermadzhab Hanafi-: ‘Abu Hurairah haditsnya tidak
diterima ...’
Belum sampai ia selesai berbicara, tiba-tiba jatuh seekor ular besar dari atap masjid
Jami’. Orang-orang pun berlarian, pemuda itu pun ikut berlari, namun ularnya terus
mengejarnya. Maka itu orang-orang menyuruhnya untuk bertaubat seraya berkata:
‘Bertaubatlah, bertaubatlah.’ Ia berkata: ‘Aku bertaubat’. Tiba-tiba ular itu menghilang
tanpa diketahui jejaknya.” (Siyar A’lam an-Nubala` 2/628, al-Bidayah wan Nihayah 16/199)

(6). Akibat meremehkan siwak

Quthbuddin al-Yunaini berkata: “Ada cerita yang sampai kepada kami bahwasanya
ada seorang yang biasa dipanggil Abu Salamah dari ujung kota Bashrah -dan dia adalah
orang yang biasa berucap kotor dan suka mencela-, disebutkan di sisinya tentang sunnah bersiwak dan keutamaannya, ia berseru: ‘Demi Allah, aku tidak mau bersiwak kecuali di
dubur.’ Lalu ia benar-benar melakukannya. Setelah kejadian itu ia mengeluhkan rasa sakit di
perut dan duburnya selama sembilan bulan. Kemudian ternyata ia melahirkan anak yang
mirip dengan tikus, berkaki empat, dengan kepala seperti ikan dan ekor seperti kelinci.
Ketika dilahirkan, anak itu menjerit sebanyak tiga kali. Sehingga putri orang itu mendekat
dan memukul kepalanya hingga tewas.
Setelah peristiwa itu lelaki, tersebut hidup selama dua hari dan meninggal dunia
pada hari ketiga. Waktu itu ia sempat berkata: ‘Hewan inilah yang membunuhku dan
mencabik-cabik ususku.’
Peristiwa di atas disaksikan oleh sebagian orang dan beberapa khatib kota itu,
sebagian ada yang sempat melihat hewan itu hidup, sedangkan sebagian yang lain
melihatnya ketika sudah mati.” (al-Bidayah wan Nihayah, kejadian tahun 665 H) (Beberapa
kisah di atas dikutip dari kitab Ta’zhim as-Sunnah karya Abdul Qayyum as-Suhaibani)
Perhatikanlah, kaum muslimin, keburukan di dunia telah menimpa orang-orang
sebelum kita lantaran menolak kebenaran yang datangnya dari Rasulullah sahallallahu
'alaihi wa sallam. Adakah yang akan menyusulnya?!

AKHIR KATA

Demikianlah beberapa kisah nyata yang menunjukkan bahwa orang-orang yang
sombong yang tidak mau menerima kebenaran yang datangnya dari sunnah Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam pasti akan mendapatkan hukuman dari Allah ta’ala cepat atau lambat.
Sombong adalah akhlak tercela, yang hanya dimiliki oleh orang yang tercela pula,
yang dapat mendatangkan akibat buruk bagi pemiliknya dan menghinakannya, baik di
akhirat, demikian pula sebelumnya ketika di dunia. Maka itu, sebagai seorang muslim yang
mengharapkan kebaikan hendaklah kita terus berusaha untuk menjauhkan diri dan keluarga
dari akhlak tercela yang satu ini khususnya, demikian pula akhlak-akhlak buruk lainnya, yang
dapat mengundang murka Allah ‘azza wa jalla.
Sekali lagi, Allah tidak lalai dan tidak pula tidur, Dia akan memutuskan perkara di
antara hamba-Nya sesuai dengan amalan masing-masing. Siapa yang menanam kebaikan
maka ia akan memanen hasil baiknya, siapa yang menebar benih keburukan maka tidaklah
ia akan menuai kecuali sesuai dengan perbuatannya. Kita memohon kepada Allah agar
dapat selalu mengagungkan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari hingga ajal datang menjemput kita. Amin.
[Oleh: M. Sulhan Jauhari]


0 komentar:

Poskan Komentar

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS