Home » , , » AKIBAT BURUK BERBUAT MAKSIAT bag.1

AKIBAT BURUK BERBUAT MAKSIAT bag.1

Written By buletin al-iman on Kamis, 14 Februari 2013 | 08.33




AKIBAT BURUK BERBUAT MAKSIAT bag.1                                                                         bag.2

Sesungguhnya perbuatan dosa dan maksiat sangat berbahaya bagi seorang hamba. Bahaya dosa bagi hati bagaikan pengaruh racun bagi tubuh. Tingkat pengaruhnya tergantung dari macam dan jenis racun maksiat yang dilakukan. 

Maksiat memiliki dampak buruk lagi tercela, berbahaya bagi hati dan badan, baik di dunia maupun di akhirat. Dan dampaknya adalah banyak sekali. Adalah Ibnul Qayyim rahimahullah mencatat di dalam kitabnya ad-Daa` wa ad-Dawaa` akibat buruk maksiat sebanyak 50 buah. Sekiranya kita mencari lagi, niscaya akan lebih banyak dari itu. Dan hanya kepada Allah kita bertaubat dan memohon pertolongan.

UMAT SEBELUM KITA BINASA KARENA DOSA

Tidaklah suatu maksiat itu merajalela pada suatu kaum melainkan sudah dekat bagi mereka siksa dari Allah ta’ala. Akibat dosa, orang kaya jadi miskin, yang pintar jadi bodoh, yang kuat jadi lemah, yang mulai jadi hina, negeri yang berkuasa jadi porak poranda, dst. 

Kira-kira, oleh sebab apakah kaum besar yang berkuasa dahulu Allah ta’ala hinakan dengan dimakan oleh bumi, hancur lebur ditelan olehnya?

Apakah sebab negeri Kaum ‘Ad diporak-porandakan dengan angin kencang hingga mereka tewas begitu saja?

Apa juga yang menyebabkan Kaum Tsamud mendapatkan siksa dengan suara keras yang memecahkan telinga dan membuat mereka binasa?

Karena apa Fir’aun beserta bala tentaranya tenggelam di lauatan luas? Kemudian apa yang menyebabkan kaum Nabi Luth dibalikkan ke bumi dan ditenggelamkan di dalamnya?

Ketahuilah kaum muslimin, sebab kehancuran mereka semua adalah lantaran maksiat mereka kepada Allah ‘azza wa jalla, ketidaktaatan mereka kepada nabi-nabi Allah. Padahal para Nabi mengajak kepada kedamaian di dunia dan di akhirat, namun mereka malah mengharapkan keramaian dari pada kedamaian, kesengsaraan daripada kesejahteraan. Hanya kepada Allah semata kita memohon perlindungan dari semua itu. 

JANGAN MEREMEHKAN MAKSIAT

Dan di zaman sekarang ini, banyak orang yang tidak peduli apakah yang mereka kerjakan kemaksiatan atau ketaatan. Bahkan banyak dari mereka yang sudah tahu maksiat namun mereka menganggap hal itu adalah sepele dan kecil, lebih kecil dari pada rambut di kepalanya.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya kalian mengerjakan perbuatan-perbuatan, yang pada pandangan kalian ia lebih lembut dari rambut, sementara kami dahulu para masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menganggapkan termasuk dosa besar yang dapat membinasakan. (HR. Bukhari no. 6127)

Ucapan ini beliau lontarkan kepada generasi setelah beliau yakni tabi’in. Lantas bagaimana dengan zaman kita yang semakin jauh dari mereka? Kiranya, sekecil apa kita menganggap dosa tersebut? Padahal mereka dahulu menganggap hal itu termsuk dosa yang dapat membinasakan?!

ANTARA ORANG TAAT DAN TUKANG MAKSIAT

Dalam kitab Shahih al-Bukhari, dari Ibnu Mas’ud ia berkata: "Sesungguhnya orang mukmin melihat dosanya seolah-olah ia berada di bawah gunung, ia khawatir gunung itu akan roboh menimpanya. Sedangkan tukang maksiat melihat dosanya seperti seekor lalat yang menempel di hidungnya, ia menyingkirkannya begitu saja dan lalat itu pun terbang (maksudnya ia tidak peduli).

KEPADA SIAPA ENGKAU BERMAKSIAT?

Imam Ahmad rahimahullah berkata: al-Walid telah bercerita kepada kami, ia berkata: Aku mendengar al-Auza’i berkata: Aku pernah mendengar Bilal bin Sa’id berkata: Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat itu, namun cermatilah kepada siapa engkau bermaksiat?!

Camkanlah ucapan Fudhail bin al-‘Iyadh rahimahullah berikut: “Ketika dosa kau anggap remeh maka di sisi Allah adalah besar, dan ketika ia kau anggap besar maka di sisi Allah adalah remeh.”

PENGARUH MAKSIAT BAGI KELUARGA

Sebagian generasi salaf berkata: "Sungguh, ketika bermaksiat kepada Allah, aku mengetahui dampak buruknya ada pada perilaku istriku dan hewan tungganganku. Istri yang tidak taat, anak-anak yang tidak berbakti, hewan tunggangan yang sulit diatur, atau kendaraan yang sering bermasalah, bisa jadi dikarenakan perbuatan dosa yang kita lakukan. Maka itu, hendaknya kita mengintrospeksi diri sebelum tergesa-gesa menyalahkan orang lain.


DAMPAK MAKSIAT MENGINTAI HARI TUA

Dosa yang dilakukan seorang hamba, meskipun tidak langsung Allah subhanahu wa ta'ala timpakan adzabnya, bisa jadi akibatnya akan ia tanggung di hari tua. Maka itu, sebagian ahli ibadah ada yang pernah melihat anak kecil, ia nikmati rupanya, hingga hal itu terbawa dalam mimpi. Dan dalam mimpinya ada yang berkata: “Sungguh engkau akan merasakan akibatnya setelah 40 tahun nanti.”
Hanya kepada Allah kita bertaubat dan beristighfar.

DOSA TAKKAN TERLUPAKAN

Imam Ahmad rahimahullah menyebutkan sebuat riwayat dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Beribadahlah kepada Allah seolah-olah kalian melihatnya, anggaplah jiwa kalian seolah- olah telah meninggal dunia, ketahuilah sesungguhnya yang sedikit namun mencukupi lebih baik daripada banyak tapi dapat melupakan, ketahuilah sesungguhnya kebajikan itu tidak akan lusuh dan perbuatan dosa tidak akan dilupa.

AKIBAT BURUK BERBUAT MAKSIAT

Sebagaimana telah kita ketahui, perbuatan dosa dan maksiat begitu banyak sekali. Kesemuanya sangat membahayakan pelakunya. Berikut sepuluh akibat dari buruk berbuat dosa dan maksiat.

1). Menghalangi datangnya ilmu.

Ilmu adalah cahaya yang Allah sematkan dihati seorang hamba. Sedangkan maksiat dapat meredupkan cahaya itu atau bahkan mematikannya. Tatkala Imam asy-Syafi’i duduk di hadapan gurunya, Imam Malik untuk membaca sebuah kitab, ia takjub dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya. Imam Malik berkata: “Sungguh, aku melihat Allah telah menghidupkan cahaya di hatimu. Maka janganlah engkau memadamkannya dengan gelapnya maksiat.” 
Suatu saat Imam asy-Syafi’i mengalami kesulitan tatkala menghafalkan kitab gurunya. Sehingga beliau mengadu kepada gurunya, Waki’ dan bersenandung:
Aku mengeluhkan kepada Waki’ buruknya hafalanku
Lalu ia membimbingku untuk meninggalkan maksiat
Ia berkata: “ketahuilah, sesungguhnya ilmu adalah cahaya”
dan cahaya Allah tidak diberikan kepada tukang maksiat.”

Dari sini dapat kita ketahui, bila ada seseorang yang sulit memahami ilmu agama, maka ketahuilah hal itu diantaranya disebabkan dosanya kepada Allah Sang Pencipta. 

Namun, selama hayat masih dikandung badan, hendaklah kita berusaha semaksimal mungkin untuk mencari ilmu agama, dan menjauhi maksiat dengan sejauh-jauhnya. Semoga Allah memberikan kemudahan. 

2). Menghalangi turunnya rizki.

Ketakwaan dapat mendatangkan rizki. Sedangkan meninggalkan ketakwaan dengan bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla adalah sebab datangnya kefakiran. Maka itu, tidaklah Allah ta’ala mengangkat rizki melainkan di antara sebabnya karena adanya kemaksiatan. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (QS. ath-Thalaq: 2-3)

Allah juga berfirman: "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. al-A’raf: 96)

Lantaran mereka bermaksiat kepada Allah dengan mendustakan ayat-ayat-Nya, maka Allah angkat keberkahan dari langit dan bumi, hujan tidak turun sehingga pertanian mengering, padahal itu merupakan ladang rizki bagi mereka, dan kemudian Allah ganti dengan siksa yang pedih.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya seseorang itu bisa terhalang dari mendapatkan rizki lantaran dosa yang ia perbuat. (Lihat: ash-Shahihah karya Syaikh al-Albani no. 154)

Maka itu, ketika seseorang mencari rizki dan belum juga Allah bukakan baginya pintu rizki, janganlah dia dengan gegabah mencela takdir atau bahkan mencela Allah, namun hendaklah ia mencela dirinya sendiri yang masih bergelimang maksiat, tidak peduli dengan Allah dan syari’at-Nya. (bersambung insyaAllah)

AKIBAT BURUK BERBUAT MAKSIAT bag. 2

[Oleh: M. Sulhan Jauhari]



0 komentar:

Poskan Komentar

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS