UNTUK MENDAPATKAN BULETIN AL-IMAN DALAM BENTUK PDF KLIK TAHUN 1 TAHUN 2 TAHUN 3
Home » » KISAH TAUBAT PEMBUNUH BERDARAH DINGIN

KISAH TAUBAT PEMBUNUH BERDARAH DINGIN

Written By buletin al-iman on Kamis, 14 Februari 2013 | 08.19




Setiap manusia pasti pernah bersalah, pernah melakukan dosa. Dan sebaik-baik
orang yang pernah berbuat salah dan berdosa adalah yang bertaubat kepada Allah
subhanahu wa ta’ala dengan tulus dan ikhlas.

Di dalam sebuah riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah
yang selalu bertaubat (kepada Allah).” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dll.)

Namun, terkadang kita dapati segelintir orang yang putus asa dan enggan
bertaubat. Bukannya ia tidak mau, tapi ia menduga bahwa pintu taubat Allah telah
tertutup baginya, Allah tidak akan mengampuninya. Ia merasa sudah terlalu banyak
dosa yang diperbuat, terlalu berat maksiat yang dikerjakan. Padahal Allah adalah Rabb
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Maha Menerima taubat setiap hamba-Nya.

Oleh karena itu, jika kita berbuat salah atau bermaksiat kepada-Nya, marilah kita
bersegera kembali dan bertaubat kepada-Nya. Jangan menunggu setelah dewasa
atau berumur tua. Khawatir kematian akan segara menyusul kita. Cepatlah bertaubat
sebelum ruh ini sampai di tenggorokan atau sebelum matahari muncul dari barat.
Karena pada dua kondisi ini, taubat seorang hamba tidak akan diterima.

Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini, kita akan menyuguhkan sebuah kisah
apik tentang taubatnya seorang pembunuh berdarah dingin yang telah menebas
seratus leher manusia. Meskipun demikian, Allah tetap mengampuni dosanya dan
menerima taubatnya.

ALUR CERITA

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya
Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dahulu sebelum kalian ada seorang (dari bani Israil) yang telah membunuh 99 jiwa.
Kemudian ia bertanya siapa yang paling tahu tentang agama yang ada di dunia ini.
Lalu ditunjukkan kepadanya seorang rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatanginya dan
menjelaskan, bahwa dirinya telah membunuh 99 jiwa, apakah ada kesempatan untuk
taubat bagi dirinya? Rahib itu menjawab, “Tidak.” Akhirnya ia membunuh rahib itu
sekalian, sehingga lengkaplah seratus jiwa yang telah melayang di tangannya.”

Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling tahu agama yang
ada di dunia ini. Lalu ia ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu). Orang itu

bercerita, bahwasanya ia telah menebas 100 jiwa, apakah masih ada kesempatan
bertaubat baginya? Seorang alim itu menjawab, “Ya, ada, siapa yang menghalangi
dirimu untuk bertaubat? Pergilah engkau ke kampung ini, karena sesungguhnya di sana
ada sekelompok manusia yang beribadah hanya kepada Allah semata, beribadahlah
kepada Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke kampungmu yang
dulu, karena kampung itu adalah kampung yang buruk.”

Lalu ia pun pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Tatkala sampai
di tengah perjalanan, ternyata kematian datang menjemputnya. Kemudian malaikat
rahmat dan malaikat azab berseteru tentang status orang ini.

Malaikat rahmat berkata: “Dia datang dalam keadaan bertaubat kepada Allah
seraya menghadapkan hatinya kepada-Nya.” Malaikat azab berkata: “Sesungguhnya ia
belum pernah mengerjakan kebaikan sama sekali.”

Kemudian datanglah malaikat yang berwujud manusia, lalu ia dijadikan sebagai
hakim (pemutus perkara) di antara mereka berdua. Malaikat yang berwujud manusia
itu berkata: “Ukurlah jarak antara dua kampung tersebut. Ke arah mana ia lebih dekat,
maka berarti ia lebih berhak di masukkan ke sana.”

Lalu mereka mengukurnya dan mendapati orang itu lebih dekat kepada kampung
tujuan. Akhirnya ia dibawa oleh malaikat rahmat. (Muttafaqun ‘alahi)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Maka ia lebih dekat sejengkal dengan
kampung yang baik itu, dan ia pun digolongkan ke dalam penduduknya.”

Di dalam riwayat yang lain pula disebutkan, “Kemudian Allah mewahyukan kepada
bumi untuk menjauhkan jarak dari kampung halamannya dan mendekatkan kepada
kampung tujuan.”

Lalu malaikat yang berupa manusia itu berkata: “Hitunglah jarak antara keduanya.”
Ternyata mereka mendapati orang itu sejengkal lebih dekat ke kampung tujuannya.
Akhirnya ia pun diampuni. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

PETIKAN FAEDAH

Kisah pendek di atas mengandung banyak faedah, berikut di antaranya:

1. Pada asalnya manusia adalah cenderung kepada kebaikan dan Islam. Namun terkadang
di tengah perjalanan banyak godaan syubhat (pemikiran yang rancu dan salah) dan
nafsu syahwat. Dan manusia yang terbaik adalah yang dapat istiqomah di jalan Allah
ta’ala hingga akhir hayatnya.

2. Keutamaan orang yang berilmu meskipun sedikit ibadahnya dibanding dengan orang
yang tidak berilmu meskipun banyak ibadahnya.

3. Orang yang bodoh adalah musuh bagi dirinya sendiri. Sebagaimana rahib dalam kisah
di atas dibunuh lantaran salah dalam memberi jawaban atau fatwa.

4. Seorang yang berilmu mencari hidayah dengan cahaya kebenaran dan ilmu, sehingga
ia diberi taufik oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mendapatkan hidayah itu,
sehingga ia dapat mengambil manfaat dan ilmunya pun bermanfaat bagi sesama.

5. Pintu taubat senantiasa terbuka dari segala kesalahan dan dosa, baik yang kecil
maupun yang besar, meskipun sebanyak buih di lautan atau sebesar bumi tempat kita
berpijak.

6. Orang yang bertaubat kepada Allah ta’ala dengan tulus akan diterima di sisi-Nya
sebesar apapun dosa yang pernah ia goreskan.

7. Kemampuan malaikat -dengan izin Allah- untuk merubah rupa menjadi
seperti manusia, sebagaimana Malaikat Jibril terkadang datang menemui Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berwujud seorang sahabat mulia Dihyah bin Khalifah al-
Kalbi radhiyallahu ‘anhu.

8. Disyariatkannya berpindah atau hijrah dari kampung yang buruk menuju kampung
yang lebih baik agar lebih mudah untuk beribadah dan mentauhidkan Allah ‘azza wa
jalla.

9. Anjuran untuk bersahabat dengan orang-orang yang berilmu, shalih dan bertakwa.

10. Barang siapa yang hijrah ke jalan Allah ta’ala dengan setulus hati, maka Allah
subhanahu wa ta’ala akan menjamin kebaikan bagi dirinya.

Inilah sepuluh faedah yang dapat kita petik dari kisah pendek nan apik ini. Faedah
yang lainnya masih banyak lagi. Semoga dapat kita pahami dengan baik dan dapat
bermanfaat bagi kita semua. Semoga kita termasuk orang-orang yang dimudahkan
oleh Allah ‘azza wa jalla untuk bertaubat kepada-Nya tatkala salah dan berdosa.
Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni segala dosa dan kesalahan kita.
Dan semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mendapatkan petunjuk. Amin ya
Rabbal ‘alamin.
| Oleh : M. Sulhan Jauhari |

0 komentar:

Buletin Terbaru

Radom Post

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS