UNTUK MENDAPATKAN BULETIN AL-IMAN DALAM BENTUK PDF KLIK TAHUN 1 TAHUN 2 TAHUN 3
Home » , » MANFAAT MENGINGAT KEMATIAN

MANFAAT MENGINGAT KEMATIAN

Written By buletin al-iman on Kamis, 14 Februari 2013 | 06.29




Betapa sering kita mendengar berita kematian dan duka, yang mengabarkan kepada kita bahwa salah seorang dari teman, tetangga, saudara atau kerabat kita meninggal dunia menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, betapa sedikit dari kita yang mau mengambil pelajaran dari kenyataan tersebut. Padahal jika kita perhatikan, di dalamnya ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik, yaitu bahwasanya setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian dan kematian itu merupakan sebuah kepastian.

Kematian merupakan suatu perkara yang tidak mungkin bisa dipungkiri oleh manusia, karena Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Sang Pencipta seluruh makhluk telah mengabarkan kepada kita dalam firman-Nya:
“Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian, dan kelak pada hari kiamat saja lah balasan atas pahalamu akan disempurnakan, barang siapa yang dijauhkan (oleh Allah) dari neraka dan dimasukkan (oleh Allah) ke dalam surga, sungguh dia adalah orang yang beruntung (sukses).” (QS. Ali Imran: 185)

Kematian merupakan milik setiap makhluk yang bernyawa. Jika Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan waktunya, maka kita tidak mungkin bisa mengundurkannya ataupun mempercepatnya meski hanya sesaat, sedetik saja.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan bagi tiap-tiap jiwa sudah ditetapkan waktu (kematiannya), jika telah tiba waktu kematian, tidak akan bisa mereka mengundurkannya ataupun mempercepat, meskipun hanya sesaat.” (QS. al-A’raf: 34)

Ketika Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukan ajal seorang manusia, maka ia tidak akan bisa lari dan selamat dari ajalnya tersebut. Walaupun ia bersembunyi di tempat yang sangat aman atau bahkan berlindung di balik benteng yang sangat kokoh, kematian tetap saja akan mendapatinya. Firman-Nya:
“Dan dimanapun kalian berada, niscaya kematian itu akan mendatangi kalian, meskipun kalian berlindung di balik benteng yang sangat kokoh.” (QS. an-Nisa’: 78)

Beberapa Faidah Dari Mengingat Kematian


Merupakan fenomena yang menyedihkan ketika didapati banyak dari kaum muslimin lalai dari mengingat kematian. Mereka terlalu terbuai dengan kenikmatan- kenikmatan dunia yang semu, lupa dengan kenikmatan-kenikmatan akhirat yang kekal abadi. Padahal jika seorang telah meyakini bahwa suatu saat ia akan mati, maka sudah selayaknya ia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi kematian, yaitu dengan memperbaiki dan memperbanyak amalan-amalan shalih yang nantinya bisa ia gunakan sebagai bekal di akhirat. Dan salah satu hal yang bisa menjadikan manusia giat dalam beribadah dan beramal shalih adalah dengan banyak mengingat kematian. Hal ini jugalah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan kepada para sahabatnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah kalian mengingat pemutus kelezatan dunia,” yaitu “Kematian” (HR. at-Tirmidzi no. 2307)


Ad-Daqaq rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara: bersegera dalam bertaubat, rasa qana’ah dalam hati (merasa cukup dan menerima pemberian Allah), serta semangat dalam beribadah kepada Allah.” (al-Qiyamah ash-Shugra, Syaikh Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar hal. 82)

1. Bersegera dalam bertaubat

Semua orang tentunya sepakat bahwasanya manusia adalah makhluk yang sering melakukan dosa dan kesalahan. Tidak ada manusia yang terlepas dari dosa dan kesalahan kecuali para Nabi dan Rasul. Namun, seorang manusia yang banyak mengingat kematian, dirinya akan selalu sadar bahwa kematian senantiasa mengintainya. Dia akan sadar pula bahwa kapan pun dan dimana pun ajal bisa saja menjemputnya tanpa sepengetahuan darinya.

Jika suatu saat dia terjatuh dalam kesalahan dan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan sesegera mungkin berusaha untuk kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meminta ampunan dari-Nya. Dia akan bersegera bertaubat dari kesalahan dan dosa yang dia perbuat. Karena dia tidak ingin menghadap Allah ta’ala dengan membawa setumpuk dosa yang nantinya bisa mendatangkan murka-Nya.
Allah subhanahu wa ta’ala juga telah memerintahkan kepada orang-orang yang bertakwa agar mereka senantiasa bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Allah ta’ala berfirman:
“Dan bersegeralah menuju ampunan dari Rabb kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang telah dipersiapkan (oleh Allah) bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran: 133)

2. Rasa qana’ah di dalam hati

Allah subhanahu wa ta’ala akan menanamkan rasa qana’ah di dalam hati hamba-Nya yang banyak mengingat kematian. Rasa qana’ah yang menjadikan seorang hamba merasa cukup terhadap setiap apa yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya, entah bagaimana pun atau berapa pun pemberian tersebut. Hal ini karena dia menyakini bahwa segala pemberian Allah subhanahu wa
ta’ala yang berupa perbendaharaan dunia hanyalah sebuah titipan yang suatu saat akan diambil kembali oleh-Nya. Tidak hanya itu saja, bahkan nanti di hari kiamat setiap hamba akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas segala pemberian tersebut.

Tidak lupa penulis berpesan kepada diri penulis pribadi dan kepada para pembaca sekalian, jadilah sebagai seorang yang cerdas. Yaitu orang yang cerdas dalam memandang hakikat kehidupan di dunia ini.
Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki Anshar yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, manakah di antara kaum mukminin yang paling utama?”
Beliau menjawab, “Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia berkata lagi, “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdas?”, Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling baik persiapannya untuk (kehidupan) setelah mati. Mereka itulah orang- orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259)


3. Giat dan semangat dalam beribadah

Seorang yang banyak mengingat kematian, akan senantiasa memanfaatkan waktu yang tersisa dari hidupnya untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Dia tidak akan menyia-nyiakan umur yang Allah ta’ala berikan kepadanya dengan hanya bersenang-senang menikmati kehidupan dunia yang menipu. Karena dia tahu bahwa kehidupannya di dunia ini akan berakhir pada kematian. Maka dari itu dia akan senantiasa giat dan semangat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah ta’ala sebagai
bekal nantinya menuju akhirat.

Tidak sepantasnya seorang muslim memiliki sifat suka menunda-nunda dalam melakukan amal shalih hanya karena kesibukan dunia. Memang selama hidup di dunia manusia tidak mungkin lepas dari kesibukan. Akan tetapi, seorang yang berakal tentunya akan mengutamakan untuk menyibukan diri dengan urusan akhirat yang pasti datang dan ia akan kekal di dalamnya, daripada urusan dunia yang pasti akan ia tinggalkan. Karena sejatinya seorang yang hidup di dunia adalah ibarat seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan yang jauh, lalu ia berteduh di bawah sebuah pohon untuk beristirahat sejenak di bawahnya, kemudian ia pergi meninggalkannya.

Hal ini seperti yang telah digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya (yang artinya), ”Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377)

Di akhir pembahasan ini penulis akan membawakan perkataan Hamid al-Qaishariy rahimahullah tentang keutamaan mengingat kematian. Beliau berkata: “Kita semua meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! Maka terhadap apa kamu bergembira?! Kemungkinan apakah yang kamu nantikan?! Kematian, itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Maka, wahai saudara-saudaraku, berjalanlah menghadap Rabb-mu dengan perjalanan yang bagus”. (Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ahmad bin
Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi hal. 384)

Semoga kita dijadikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa banyak mengingat kematian dan banyak melakukan amal shalih sebagai bekal menuju akhirat, dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkan kita dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

(Oleh: Mukhadasin)

0 komentar:

Buletin Terbaru

Radom Post

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS