UNTUK MENDAPATKAN BULETIN AL-IMAN DALAM BENTUK PDF KLIK TAHUN 1 TAHUN 2 TAHUN 3
Home » , , , » SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PEMIMPIN

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PEMIMPIN

Written By buletin al-iman on Rabu, 13 Februari 2013 | 08.59



Dalam kehidupan bermasyarakat yang kompleks dan beragam diperlukan seseorang yang dapat memimpin agar terciptanya masyarakat yang aman sejahtera dan sentosa. Setiap orang pasti mengkehendaki seorang pemimpin yang adil, amanat dan jujur. Apalagi seorang muslim yang beriman kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya pasti menginginkan adanya pemimpin yang bertaqwa, shalih, jujur, amanat, dan adil sehingga terwujudnya masyarakat atau negara yang sejahtera dan menegakkan syariat Islam. Akan tetapi apabila pemimpin tersebut tidak sesuai yang mereka dambakan. Maka timbullah gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan kudeta atau kekacauan di tengah-tengah asyarakat. Sehingga terjadilah kekacauan, kerusuhan, pengerusakan fasilitas-fasilitas umum dan yang parahnya lagi sampai adanya usaha untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Dari sini timbul polemik dan permasalahan di tengah masyarakat yang tidak mengetahui agama Islam yang benar ini, bagaimana sikap seorang muslim terhadap pemimpinnya? erikut ini kami suguhkan beberapa kalimat yang menjelaskan sikap seorang muslim terhadap pemimpinnya baik dia seorang yang shalih ataupun fajir. Para ulama ahlus sunnah wal jamaah telah menjelaskan hal ini secara gamblang dalam kitab-kitab akidah mereka. Sehingga apa yang kami jelaskan di bawah ini bukanlah dari hawa kami, namun dari ulama. Inilah sikap seorang muslim ahlus sunnah wal jamaah terhadap pemimpinnya.

1). Mentaati pemimpin dalam perkara yang ma’ruf.

Hal tersebut merupakan kewajiban seorang muslim. Allah ta’ala berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa’: 59)
Adapun dari hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (terhadap pemimpin) pada apa-apa yang dicintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat” (Muttafaq ‘alahi) 
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: “Allah memerintahkan kaum muslimin utuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintahnya dan dan menjauhi larangannya. Dan Allah memerintahkan untuk taat kepada ulil amri, mereka adalah para pemimpin dari kalangan amir, hakim dan muIfti. Sesungguhnya tidak akan berjalan perkara agama dan dunia kecuali dengan menaati dan tunduk kepadanya dalam rangka mentaati perintah Allah dan mengharap ganjaran di sisi-Nya, akan tetapi dengan syarat tidak dalam bermaksiat kepada Allah, apabila mereka memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungghnya ahlus sunnah wal jamaah memandang bahwasanya bermaksiat tehadap pemimpin yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barangsiapa yang menaatiku maka ia telah taat kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada pemimpinku maka ia telah taat kepadaku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpinku maka ia telah bermaksiat kepadaku”. (HR. Bukhari)

2). Mentaati pemimpin baik yang shalih maupun yang zhalim.

Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, dahulu kita berada dalam keburukan kemudian Allah datang memberikan kebaikan dan kita berada di atasnya apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi? Rasulullah menjawab: “Ya”. Kemudian Hudzaifah berkata: “Apakah setelah keburukan akan ada kebaikan? Rasulullah menjawab: “Ya,” Kemudian hudzaifah bertanya: “Apakah setelah kebaikan akan ada keburukan? Rasulullah menjawab: “Ya,” Kemudian hudzaifah bertanya kembali: “Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Rasulullah bersabda: “Akan datang setelahku, pemimpin-pemimpin yang yang tidak mengambil petunjukku, mengambil sunnah bukan dari sunnahku. Dan akan ada orang-orang yang hati mereka seperti hati syaithon dalam tubuh manusia.
Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika keadaaan tersebut menjumpaiku?” Rasulullah menjawab: “Dengar dan taatilah pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, dengarkan dan taati! (HR. Muslim)

3). Tidak melakukan demonstrasi, pemberontakan, kudeta atau keluar dari ketaatan mereka.

Para imam ahlus sunnah wal jamaah tidak pernah memerintahkan kaum muslimin untuk mendemostrasi, mengumbar kejelekan pemimpin di muka umum, baik di media massa maupun di media elektronik, apalagi melakukan pemberontakan, mengangkat senjata dan keluar dari ketaatan pemimpin. Ahlus sunnah wal jamaah mengambil teladan dari para salafush shalih. Lihatlah bagaimana sikap para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ketika dipimpin oleh pemimpin yang kejam lagi bengis, yaitu Hajjaj bin Yusuf. Tidak ada satupun dari sahabat mendemonstrasi, memberontak apalagi menggulingkan Hajjaj bin Yusuf. Pada saat itu ia pemimpin yang banyak membunuh ulama-ulama yang hidup sezaman dengannya.

4). Wajib atas seorang muslim bersabar ketika dipimpin oleh pemimpin yang zholim.

Ketika seorang muslim diuji dengan pemimpin yang zhalim maka hendaknya ia tetap bersabar atas cobaan tersebut. Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

“Barangsiapa yang meilhat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya maka bersabarlah. Sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari jamaah sejengkal saja kemudian ia meninggal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah”. (Muttafaq ‘alaihi)

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam kitabnya yang berjudul Syarah al-‘Aqidah ath-Thahhawiyyah: “Hukum taat kepada pemimpin adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan). Karena keluar dari ketaatan mereka akan berdampak kepada kerusakan yang lebih besar daripada kezhaliman pengusa tersebut. Bahkan apabila mereka bersabar maka hal tersebut menjadi penghapus keburukan dan dapat melipatkan ganjaran (pahala).

Ketahuilah bahwasanya Allah tidak menimpakan kepada suatu kaum berupa pemimpin yang zholim melainkan balasan atas perbuatan buruk kaum muslimin tersebut. Seperti yang dikatakan al-jazaa’ min jinsil ‘amal yaitu balasan sesuai dengan perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh untuk banyak beristighfar, bertaubat dan memperbaiki amal-amal”.
Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS.asy-Syura: 30)

5). Menasihati mereka dengan sembunyi-sembunyi tidak di depan umum.

Di antara prinsip ahlus sunnah wal jamaah adalah menasehati para pemimpin tidak secara frontal dengan membeberkan aib mereka di muka umum. Dari sini terdapat mashlahat yang sangat besar sehingga terjagalah kehormatan dan kewibawaan pemimpin di mata rakyatnya.

6). Berdoa kepada pemimpin-pemimpin kaum muslimin.

Ketika kaum muslimin diuji oleh Allah ta’ala dengan ditimpakan pemimpin yang zhalim, pemerintahan yang tidak adil, berbuat semena-mena, maka hendaknya mereka berdoa agar Allah ‘azza wa jalla memperbaiki urusan mereka. Karena baiknya urusan negeri akan berdampak baik terhadap penduduknya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama ahlus sunnah wal jamaah ketika mereka dipimpin oleh pemimpin yang zhalim. 
Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sekiranya aku mempunyai sebuah doa baik yang pasti dikabulkan, maka akan aku tujukan untuk para pemimpin. Ia ditanya, “Wahai Abu ‘Ali (kunyah Fudhail bin Iyadh), jelaskan maksud ucapan tersebut? Beliau menjawab: “Apabila doa itu hanya ditujukan kepada diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata pemimpin berubah menjadi baik maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Penutup

Setelah kami suguhkan bagaimana sikap seorang muslim yang berpegang kepada manhaj salafush shalih maka jelaslah kesesatan dan penyimpangan cara-cara yang gunakan beberapa hizb atau golongan sesat yang mengatasnamakan ahlus sunnah wal jamaah. Mereka sangat jauh dari tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama ahlus sunnah wal jamaah. Mereka berdemonstrasi di jalan-jalan, mengumbar aib-aib pemimpin di tengah-tengah masyarakat, bahkan yang lebih mengenaskan lagi mereka melakukan pengeboman dengan dalih bom mati syahid dalam rangka menegakkan negara Islam. Semoga Allah memperbaiki urusan-urusan pemimpin kita di bumi Indonesia. sehingga negeri tercinta Indonesia ini menjadi negeri yang Allah curahkan barakah dari langit dan bumi. Amin.
[Oleh: Aulia Ramdanu]

0 komentar:

Buletin Terbaru

Radom Post

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS